Kehadiran dan pemanfaatan teknologi informasi dewasa ini memang tidak dapat lagi terelakkan. Hal itu khususnya terkait situs jejaring sosial Facebook yang kini telah membangkitkan gairah sastra bagi para sastrawan."Kemunculan Facebook untuk menuliskan karya-karya sastra telah menjadi sesuatu yang konvensional, tetapi mendapat sambutan besar dari para penggunanya sehingga menimbulkan semangat bagi para seniman," ujar sosiolog, MJA Nashir, di Medan, Selasa (3/8/2010).
Ia menjelaskan, pada kenyataannya telah banyak para sastrawan yang menuangkan ide ke dalam karya-karya mereka, seperti puisi, melalui Facebook dan mendapat respons positif dari para pembaca.
Selain itu, puisi-puisi para sastrawan serta seniman yang terpublikasi di Facebook justru memiliki kualitas yang bagus bahkan sering mengalahkan karya-karya yang dipublikasikan media cetak, seperti koran dan majalah.
Bahkan, fenomena itu juga dapat membuat heboh berbagai media cetak yang juga sering memublikasikan karya-karya puisi para sastrawan.
Menurut dia, media cetak berpeluang untuk ditinggalkan para sastrawan dan pembaca karena kehadiran Facebook bisa memublikasikan puisi yang justru lebih bagus dibandingkan beberapa puisi yang dipublikasikan di media cetak.
"Kalau sebelumnya banyak penulis yang berlomba-lomba mengirimkan tulisan agar puisinya dimuat koran dan majalah, sekarang hal itu tidak perlu lagi. Cukup menulis di Facebook dan langsung mendapat respons pembaca serta tepat pada sasaran," ujar pengamat sosiologi sastra itu.
Selain itu, semangat kebebasan dan independensi para sastrawan pun lebih berbeda ketika menuliskan karya-karya itu di Facebook.
Ia menuturkan, para penulis kini bebas menuliskan karya puisi tanpa harus terikat dan terjebak dengan "kepentingan" dari media cetak yang memuat karya itu.
"Bahkan, kemunculan Facebook juga dapat menumbuhkan komunitas-komunitas sastra yang bisa tertarik untuk membuat puisi tanpa harus melalui tangan-tangan editor dan pengoreksi," ujarnya.
Lebih dari itu, media Facebook menempatkan sastrawan sebagai suatu sebutan yang tidak sakral lagi karena setiap orang bisa menulis puisi yang menurutnya baik untuk dimuat di Facebook.
Salah satu sastrawan yang menuliskan puisi di situs jejaring Facebook, Zulkarnain Siregar, mengatakan, menulis puisi di Facebook justru lebih menarik karena setiap puisi yang dimuat di jejaring sosial itu langsung mendapat respons dan komentar dari para pembaca.
"Dekatnya jarak komunikasi antara penulis dan pembaca di Facebook juga memungkinkan penggunanya untuk menjalin diskusi-diskusi secara intens sehingga membangkitkan semangat penulis untuk terus menulis puisi yang lebih baik untuk dimuat," ujarnya.
Selain itu, komunikasi antara penulis dan pembaca secara online itu bisa memengaruhi semua teman di jejaring sosial melalui pesan yang dibaca pada tiap rangkaian kata-kata puisi itu.
"Saya sudah dua tahun menulis puisi di Facebook dan seterusnya saya pasti akan menulis karya lainnya di Facebook," ujarnya.
Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara, Prof Dr Ikhwanuddin Nasution, MSi, menuturkan, transformasi karya sastra puisi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi seperti Facebook tentu memberikan nuansa positif bagi perkembangan sastra.
Ia menjelaskan, penulisan karya puisi di akun jejaring sosial itu tentunya akan semakin mendekatkan penulis dengan para pembaca dan semakin memperbesar akses untuk membaca dan memahami karya itu.
Terlebih, para sastrawan bebas menulis sastra puisinya tanpa lagi harus memikirkan kesediaan media cetak yang akan menerima puisi-puisi yang telah dibuat itu.
Menurut dia, memang, para sastrawan bahkan juga masyarakat luas saat ini bebas memublikasikan karya sastranya melalui akun Facebook. Walau demikian, mereka juga harus senantiasa menjaga nilai estetika.






